Teropongdunia : MAKASSAR, SULSEL — Direktur PUKAT Sulawesi Selatan, Farid Mamma, S.H., M.H., memberikan tanggapan terhadap respons pihak Kelurahan Suangga, Kecamatan Tallo, terkait kondisi Ibu Faedah, perempuan sebatang kara yang tinggal dalam kondisi memprihatinkan.
Farid mengapresiasi perhatian dan bantuan yang telah diberikan pihak kelurahan kepada Ibu Faedah. Namun, menurutnya, persoalan yang dihadapi Ibu Faedah tidak cukup diselesaikan dengan bantuan sesaat.
“Terima kasih kepada Ibu Lurah Suangga. Kami sangat mengapresiasi bantuan yang telah diberikan kepada Ibu Faedah. Tetapi yang kami pertanyakan adalah bagaimana Ibu ini bisa mendapatkan tempat yang layak, penanganan kesehatan yang layak, makanan yang layak, dan kehidupan yang layak,” kata Farid.
Ia menegaskan, kedatangan PUKAT Sulsel bukan untuk mencari keuntungan atau kepentingan pribadi, melainkan untuk mendorong agar warga yang hidup dalam kondisi terlantar mendapatkan perhatian negara.
“Kami datang bukan karena ada kepentingan. Kami datang untuk memanusiakan manusia. Ibu Faedah ini sebatang kara dan terlantar. Negara memiliki tanggung jawab terhadap masyarakat yang berada dalam kondisi seperti ini,” ujarnya.
Farid juga menyinggung amanat Pasal 34 ayat (1) UUD 1945 yang menyebutkan bahwa fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara.
Selain itu, ia merujuk Pasal 34 ayat (3) UUD 1945 mengenai tanggung jawab negara dalam penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan fasilitas pelayanan umum yang layak, serta Pasal 28H ayat (1) UUD 1945 mengenai hak setiap orang untuk memperoleh pelayanan kesehatan dan hidup sejahtera.
Menurutnya, tanggung jawab pemerintah terhadap warga yang membutuhkan juga diatur dalam UU Nomor 11 Tahun 2009 tentang Kesejahteraan Sosial dan UU Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan.
Farid menilai kondisi tempat tinggal Ibu Faedah saat ini perlu mendapat perhatian serius. Ia khawatir kondisi bangunan yang tidak memadai dapat menimbulkan risiko keselamatan apabila tidak segera ditangani.
“Kalau terjadi sesuatu yang tidak kita inginkan, misalnya kebakaran atau kejadian lainnya, siapa yang bertanggung jawab? Kami tidak menginginkan hal itu terjadi. Kami ingin Ibu Faedah ditempatkan di tempat yang aman dan layak,” tegasnya.
Ia juga menyoroti persoalan perawatan kesehatan Ibu Faedah. Menurut Farid, penanganan terhadap Ibu Faedah ke rumah sakit sebelumnya dilakukan atas bantuan masyarakat, bukan semata-mata karena intervensi pemerintah.
“Kami memahami sudah ada yang datang dan memberikan bantuan. Tetapi jangan sampai bantuan itu hanya diberikan kemudian ditinggalkan. Setelah itu bagaimana nasib Ibu Faedah?” katanya.
Farid menegaskan, PUKAT Sulsel tidak sedang meminta masyarakat memberikan sumbangan. Menurutnya, yang dibutuhkan adalah kehadiran pemerintah untuk memastikan keberlangsungan kehidupan dan perawatan Ibu Faedah.
“Kami bukan meminta sumbangan. Kami juga mampu membantu. Tetapi persoalannya adalah bagaimana pemerintah hadir secara berkelanjutan. Jangan hanya datang memberikan bantuan, setelah itu selesai,” ujarnya.
Ia bahkan meminta pihak kelurahan dan kecamatan turun langsung melihat kondisi Ibu Faedah.
“Pemerintah harus turun ke lapangan. Jangan hanya berbicara. Mari kita melihat sisi kemanusiaannya. Kita tidak perlu melihat siapa Ibu Faedah, apakah dia punya keluarga atau tidak. Dia adalah manusia yang membutuhkan perhatian,” kata Farid.
Farid juga meminta Pemerintah Kota Makassar melalui Wali Kota Makassar mengambil langkah konkret. Menurutnya, pemerintah kota memiliki kewenangan untuk mengoordinasikan perangkat daerah agar memberikan penanganan yang lebih menyeluruh.
“Kami meminta kepada Bapak Wali Kota Makassar untuk merespons persoalan ini. Ibu Faedah harus mendapatkan pelayanan kesehatan yang memadai, tempat tinggal yang layak, makanan yang cukup dan perawatan yang baik,” katanya.
Ia mengusulkan agar Ibu Faedah dapat ditempatkan di fasilitas sosial milik pemerintah apabila memang tidak memiliki keluarga yang dapat merawatnya.
“Kalau memang Ibu Faedah tidak memiliki keluarga yang bisa merawat, kami berharap pemerintah dapat menempatkannya di tempat yang layak, misalnya fasilitas sosial yang sesuai, kemudian dirawat dengan baik, diberi makan dengan baik dan tidur dengan nyaman,” ujarnya.
Farid menjelaskan, berdasarkan informasi yang diperolehnya, Ibu Faedah berasal dari Jawa Timur dan telah tinggal di Makassar selama kurang lebih 20 tahun. Setelah orang yang sebelumnya menjadi tempat bergantung meninggal dunia, Ibu Faedah disebut menjalani kehidupan seorang diri.
“Kondisinya memang membutuhkan perhatian. Karena itu kami berharap semua pihak, mulai dari lurah, camat, tokoh masyarakat hingga Pemerintah Kota Makassar, bersama-sama melihat persoalan ini dari sisi kemanusiaan,” tuturnya.
Farid menambahkan, PUKAT Sulsel tetap mendukung program-program Pemerintah Kota Makassar sepanjang program tersebut memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, termasuk warga yang berada dalam kondisi terlantar.
“Kami sangat mendukung program pemerintah. Tetapi kami berharap program itu juga menyentuh masyarakat seperti Ibu Faedah. Jangan sampai ada warga yang hidup sendiri dalam kondisi sakit dan tidak layak, tetapi luput dari perhatian,” pungkasnya.
